10 September 2010

Senyum Kecut Hari Kemenangan

Berbondong, berarak, gedung pertokoan yang dituju.

Berlomba tak ingin kalah gengsi dengan tetangga di kota dan di desa.

Pada 20 40 50 70 mata tertuju, pasangan pengantin baru tak punya bayi tak peduli, walau hanya popok tetap dibeli. Kaus tak muat senang hati dibawa pulang, sisa ekspor katanya demi bergaya pada tetangga kota dan desa.

Harus pulang dengan kantung plastik bagus dan wangi khas swalayan, belasan jumlahnya sebelum bedug dan takbir bergema.

Kue ditoples hanya berasa sagu laku ratusan ribu, sedikit berrasa mungkin dengan sedikit gula.

31 Agustus 2010

Papandayan + Tips (murahan)


Merahputih







...sama warna, beda rasa...













"Foto disebuah SMU yang ternyata gadis-gadisnya sangat biasa-biasa saja
"



Oleh: Boimin

15 Juli 2010

Simbiosis Tak Bermutu

Jalanan Gat-su ketika siang dalam Fujica M1

26 Juni 2010

Bebas

Di sore hari yang sedikit suram karena hujan, saya duduk di teras depan sebuah kantor kecil. Ditemani secangkir kopi yang tak lagi panas, sebatang rokok terakhir dan seorang teman yang baru saya kenal bernama Dion. Sebut saja dia Mas Dion.

Ajaib sekali teman yang baru saya kenal ini. Hanya dalam 5 menit, saya sudah terpukau karena gaya bicaranya yang cerdas dan lantang. Dalam 20 menit, saya luluh akan keluasan wawasannya yang tak terbatas. Dalam 45 menit, saya pun mulai keringat dingin dan sedikit mual. Dalam 2 jam, saya pun akhirnya benar-benar merasa menjadi manusia tanpa kredibilitas apapun. Luluh lantah. Ya, Mas Dion telah memperkosa saya (bukan dalam artian sebenarnya).

Mas Dion, benar-benar manusia dengan banyak ilmu, dari yang ilmu pasti, ilmu tidak pasti, sampai ilmu yang dipasti-pastikan. Saya berani bertaruh, bahwa orang seperti dia pasti bisa menebak dari jarak 2 meter, apakah itu semut jantan atau betina. Namun berbeda dengan Alm. Bapak Tino Sidin yang suka meng-"like this"-kan karya ataupun pemikiran murid-muridnya untuk mengobarkan semangat mereka. Sedangkan Mas Dion sebaliknya, ilmu-nya banyak namun membuat lawan bicaranya merasakan sensasi ketololan pribumi pada masa tanam paksa. Mas Dion seperti replika kolonialisme Belanda dalam satu tubuh manusia

25 Juni 2010

Balada Seekor Orang Utan

Angin berhembus... wusssss..

Adapun aku mencoba bergelayutan di sulur pohon yang bahkan tidak mampu menopang berat badanku...

Hebat!! Aku tidak terjatuh..

Tapi apa itu semak belukar??

Aku melihat seberkas cahaya masuk menelurusi semak itu...

Aku lompat ke tanah.. Hooop!!

Berhasil, rasa penasaranku membuat aku menggaruk-garuk kepala sambil memandangi berkas cahaya yang terus bergerak menjauhiku...

Otak kecilku bertanya-tanya... Apaan tuh yak??

Tanganku yang lebih panjang daripada kakiku bergerak kearah semak belukar tersebut,,,,
lalu mundur lagi....
Semak itu berduri, dan tubuhku terlalu besar untuk menyusurinya....
Peduli dengan Setan Utan, aku melangkah masuk....

26 Mei 2010

BERHENTI !

Mengungkapkan alasan dengan torehan
Lalu mulai menyusun sebagai suatu pemikiran paling naif yang pernah terpikirkan
Ampas kopi di gelas kaca kembali menerbangkan ulasan lalu yang membuat gerah

Sesak

Melebur melayang bercampur dengan hembusan asap rokok terakhir

Hembus

Tanda suara itu menyadarkan alasan yang sedang terpikirkan
Luar biasanya keheningan

Diam

Dinamo kipas meraung-raung dipaksa lembur tanpa alasan

Bukan berarti diam

Lombok nan Murung




5 Mei 2010

Petinju Amatir

Siang ini hall terasa sangat panas dan penuh asap rokok. Penonton menyesaki ruangan, sambil berteriak memberikan semangat. Tidak ada satu tempat duduk pun yang terisi, semuanya berdiri. Mereka menyaksikan pertarungan di dalam ring. Begitu banyak orang di kota ini menyukai tinju, sebuah pertandingan gladiator dijaman modern. Pertandingan hari ini menampilkan seorang petinju amatir melawan petinju dari kota sebelah, yang juga pemegang gelar juara. Si amatir adalah tuan rumahnya.

Saya adalah dokter, baru disewa hari ini oleh si petinju amatir, khusus untuk pertandingan hari ini. Saya pun juga dokter yang amatir, yang belum pernah menjadi dokter untuk pertandingan tinju. Saya berdiri di pinggir ring. Menyaksikan si amatir dengan tangguh melawan si pemegang juara. Hantaman demi hantaman. Saya mulai berpikir, bahwa manusia punya kecenderungan menikmati ketika melihat manusia lain mengalamai penderitaan. Seperti kemarin sore di perempatan jalan, saya melihat ada kecelakaan, mobil menghantam motor. Ramai sekali orang mengelilinginya, tetapi hanya lima orang yang menolongnya. Sisanya hanya menonton, menerka, si korban hidup atau mati. Ya, penderitaan menjadi semacam tontonan drama, bagaimana dan dengan cara apa si korban akan bertahan hidup. Jika si korban hidup, kita akan merasa senang, jika ternyata mati, toh kita akan merasa lega karena bukan diri kita yang mengalami kecelakaan. Penderitaan adalah tontonan drama, yang membuat kita yang menontonnya merasa menjadi manusia superior. Seperti menyaksikan laga pertempuran di atas ring sekarang ini.

22 April 2010

Nelangsa

Gugatan kepada tuhan

Ramai-ramai orang berkerubung di pinggir jalan. Gumam riuh rendah. Ada yang mati kena lindas peti kemas. Yang melindas kabur karena takut mati juga rupanya.

Modar!
Moral!

Cekcok keluarga. Rebutan warisan dari yang mati. Simpanan untuk peninggalan anak cucu kalau juga sudah mati.

Gelombang
Lingkaran
Hidup
Mati

Kapal motor pontangpanting. Nenek-nenek pusing setengah mati. Makan manisan kemanisan. Sesak mau mati. Ludah kena angin jatuh ke lawan pandang. Dibikin mati sekalian.

Nasib
Pola
Pinta

20 April 2010

Repetisi

Pukul 2 siang. Sebuah rumah sakit di kota metroplitan.

Pintu UGD terbuka lebar, seorang pasien yang terkapar di dorong petugas ambulans menuju ruang operasi. Sang pasien seorang lelaki paruh baya, memakai kemeja biru dan celana jeans hitam, tubuhnya basah kuyup, membuat rambutnya yang tipis terlihat mengkilap.

Korban tenggelam kata si petugas ambulans, terpeleset dan jatuh ke dalam kolam renang rumahnya sendiri, anak dan istrinya baru sadar setelah si bapak telah satu jam di dalam air. Saat dievakuasi, tubuhnya sudah membiru dan dadanya menggelembung, ada akuarium di paru-parunya kata si petugas ambulans, kita perlu dokter bedah untuk membelah dadanya dan mengeringkan paru-parunya.

Pintu ruang operasi terbuka lebar, seorang dokter dan dua orang asistennya telah menunggu, mata mereka dengan serasi tertuju ke arah pintu seiring dengan kedatangan sang pasien.

Operasi dimulai.

.......................................

Lima jam setelah operasi.

Aku berada di samping sang pasien. Sudah waktunya mengganti botol infusnya, membuang sisa darah kotor dari dadanya, dan melakukan pengecekan denyut jantung.

Berangsur normal.

.......................................

Tiba-tiba sang pasien siuman, langsung terduduk di kasur, membuat selang infus dan selang oksigen menegang, wajahnya ikut menegang, selang oksigen terlepas, sang pasien menutup wajah dengan tangan kanannya.

19 April 2010

Berhenti Merokok Cara Ultraman, Bag.1

Pernah merasa betapa susahnya berhenti merokok dan menghilangkan pikiran-pikiran ajaib di kepala yang berkata, "ah sebatang saja lagi" atau "ih.. kotak rokok sapa nih nganggur?" atau yang paling sering, "di tangan gue ada korek, gue ada duit, demi kelangsungan hajat hidup orang banyak gue kudu beli satu slop!!"

Calon pengidap kanker yang mau insyaf : "iya, bener om Aryo tolong kamiiii!!!" Jangan, jangan khawatir, karena om Aryo ditengah sibuk-sibuknya menyusun seminar, bersedia turun ke bumi dan mengajak sesama calon pengidap kanker untuk berhenti rokok sekarang. Gratis!!

Kecuali lu pada rental..

Atau punya internet sendiri..

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dengan mudah dan murah, antara lain

1) Susun aktivitas mencegah mikir

Bikin jadwal aktivitas lu penuh sampai tidak ada yang namanya menganggur duduk dan mikirn masa depan bangsa atau mikir jorok. Khusus yang terakhir, dapat menyebabkan kita merokok secara otomatis dan penumpulan kapasitas otak. Ya, gue tau, itu rada susah, tapi coba jarangin merenung kayak filsafat, sadar aja otak lu dangkal. Mikirin dimana tiket parkir aja udah rada susah, masa mau lu tambah beban hidup pake mikir dan bengong?

Intinya adalah bikin biar waktu lu penuh sama kegiatan, sekalian mempersempit waktu untuk merokok, juga biar lu olahraga.
(Disini om Aryo menyarankan agar mengisi waktu dengan melakukan olahraga secara perlahan, mencegah syok karena jarang olahraga. Dimulai dari jempol, seperti maen game. hehehe)

14 April 2010

Pahlawan Eksis-less

Ada suatu masa ketika hutan-hutan Inggris adalah tanah biasa. Para petani yang setengah kelaparan pasti berpikir sangat lah tidak masuk akal. Ribuan mil persegi, hutan dijaga ketat sebagai daerah perburuan raja. Padahal raja tidak mengolah sedikitpun daerah tersebut. Akhirnya para petani mulai merasa semakin benci pada kondisi mereka. Kebencian pun akhirnya meledak pada dalam revolusi petani tahun 1381. Sekitar tahun itulah muncul seorang pahlawan yang sangat terkenal.

Robin Hood, seorang pahlawan terkenal dari tanah Inggris. Namun seperti Raja Arthur, ke-eksistensian-nya diragukan dalam sejarah modern. Banyak versi tentang keberadaannya. Seorang penulis dongeng menarik kesimpulan kalau ternyata Robin Hood adalah seorang Dewa Celt. Adapula yang menyebutnya Robin of The Hood, setan bertanduk dalam perayaan festival sihir kuno. Namun banyak pula yang meyakini bahwa ia adalah pria sungguhan, dan sebagaimana yang dinyatakan dalam balada bahwa Robin menjarah rusa-rusa Raja di hutan Sherwood dan berselisih berlarut dengan Sheriff Nottingham.

Indonesia pun punya pahlawan serupa. Namanya Pitung, berasal dari tanah Betawi. Seorang pendekar silat sakti mandraguna. Menjarah dari orang-orang kaya, lalu memberikan hasil nya kepada rakyat jelata. Menurut drama di televisi, ia kebal terhadap peluru. Kompeni mengejarnya, menembaknya tetapi tidak pernah berhasil. Sampai peluru emas disarangkan ke tubuhnya, dan Pitung pun kehilangan nyawa. Menurut sejarahwan, Pitung hanya lah mitos. Tetapi menurut orang Betawi, Pitung itu adalah sosok nyata, dan menjadi pahlawan sepanjang masa. Begitu banyak balada tentang dirinya, sampai-sampai ada situs pemakamannya.

Banyak outlaw heroes di seluruh dunia, dan hampir setiap negara pasti ada kisahnya. Pahlawan eksis-less ini diragukan keberadaannya. Antara mitos dan nyata. Buku sejarah di Sekolah Dasar tidak pernah mencatat namanya. Nama mereka lebih banyak tercatat di buku-buku sastra. Si Pitung jelas kalah tenar dengan Wali Songo. Namanya yang tercatat di buku sastra membuat sebuah pernyataan yang sangat halus, kalau ternyata si Pitung ini adalah hanyalah dongeng atau mitos, sama seperti Robin Hood. Sedangkan Wali Songo yang tercatat namanya di buku sejarah lebih berkesan manusia yang otentik nyata, beserta cerita kebaikan-kebaikannya.

11 April 2010

Manusia Kaset

Siang itu di ketinggian lebih dari tiga ratus meter di atas permukaan laut, aku bertanya pada resepsionis dimana letak ruangan pengadaan kaset.

"Naik tangga ini, terus jalan di lorong, lalu belok kiri dipertama, lalu kanan, dan kiri, ikuti saja jalannya, letaknya di paling ujung sendiri."
"terimakasih mbak."

Lelaki paruh baya itu tenggelam diantara tumpukan kaset vdeo yang menggunung, entah sudah berapa lama, hanya saja bagiku terlihat sudah seperti puluhan tahun yang lalu ditakdirkan lahir untuk tenggelam diantara kotak perekam gerak.

Ialah sistem pabrik sebenarnya. Alat dalam sistem kreasi yang rapih terstruktur dalam perusahaan pengobral mimpi manusia.

Untuk bertahan di tengah rimba kehidupan, mungkin hanya mesin daur ulang pita selain istri yang menunggu di rumah yang setia menemaninya. Entah apa yang membuatnya tetap berada disituasi seperti itu.

Ruangan dua kali dua meter yang ramai dengan kaset yang bisu.

5 April 2010

Pria Malang

"Up..up..up.."


Setelah terkena ledakan elektromagnetik dari matahari, pria ini terombang-ambing di luar angkasa. Akhirnya ia terdampar cukup jauh dari tujuan aslinya. Ia jatuh tepat di wilayah Israel. Bagai jatuh tertimpa tangga, karena brewok yang tebal disekitar dagu sampai lehernya, ia ditahan oleh tentara Israel.

4 April 2010

Untuk "Orang Tua"

"Saya melakukan perjanjian dengan semua pengorbanan anda,
dan semua keuntungan di pihak saya,
saya akan menjaga perjanjian itu sejauh saya suka,
dan anda akan menepatinya sejauh saya suka"


Cerita dari gambar tersebut adalah, ada seorang bapak yang ingin menawar seorang pemuda yang sedang berjalan santai di tepian kota. Sang pemuda terlonjak sambil memegangi anu-nya lalu berkata. "Maaf saya bukan pria pelacur, lagi pula saya benci pria berkumis."

3 April 2010

Ke Alaska

"Pesawat yang membawa kita ke Alaska"



"Musim dingin di Alaska"

1 April 2010

Interpretasi Gambar Kupu


Anak kecil itu terkekang dalam kamarnya. Properti yang dipunya hanyalah globe dan lukisan burung. Baginya kedua barang itu adalah simbol tentang kebebasan. Sebuah ego yang tidak ada di dalam dirinya. Menjadi burung dan bebas berkeliling dunia, bebas seada-adanya. Setiap hari pikiran itu ada di kepalanya, tapi ia tidak bisa kemana-mana, hanya menatap jendela.

Suatu hari, jauh sebelumnya.

Angin kencang sekali.

Meruntuhkan bangunan-bangunan tanpa pondasi.
Disertai hujan deras.

Seorang akang tanaman mati tertimpa.

Tanamannya hancur.

Benih-benihnya bertebaran.

Terseret air ke selokan.

Terombang-ambing terbawa arus.

Berhari-hari, sampai akhirnya.

Terkapar di atas aspal.

Kering terjemur matahari.

Bergeser-geser terkena sandal.

Terhempas oleh roda bajay.

Terlempar, terbawa angin.

Sampai mendarat di sebuah pekarangan.

Saat itu bibi sedang menyiram.

Di dalam tanah benih tenggelam.
Berhari-hari, sampai akhirnya muncul ke dunia, sebagai bunga matahari.

31 Maret 2010

Hamster Punya Cerita

Buat sebagian laki-laki, mengakui binatang-binatang menggelikan seperti hamster dan kecoa terbang itu lucu adalah hal yang sangat maskulin. Ini dia kawan saya yang baik. Namanya Ronal, badannya tinggi tegap, kulitnya coklat menuju hitam dan punya obsesi yang tidak main-main dengan dunia hewan. Prestasinya antara lain menarik-narik sirip hiu seaworld, menangkap cicak dan reptil-reptil berbahaya, memiliki pengetahuan soal hiu, binatang buas lainnya dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Tapi jangan khawatir, tampangnya lumayan lah.

Nah, memang sudah biasanya tiap malam saya dan si Boimin datang ke rumah Ronal buat diskusi. Biasanya kita membahas soal politik Turki Selatan setelah perang salib atau uji coba rumus logaritma nan efisien untuk pembangunan teknologi nuklir Korea Utara, gitu deh. Namun hari itu di kamar Ronal ada sedikit pemandangan yang baru tapi tidak mengejutkan buat saya. Apakah itu? Betul sekali tebakan anda. Ronal punya peliharaan baru. Namanya si Max dan Lou. Bukan, mereka bukan macan India. Mereka adalah hamster, sepasang hamster. Saat ditemui di kandangnya, Max sedang lari-lari di atas mainan treadmil-nya dan Lou sedang tidur.

"Namanya siapa nih, Nal?" bertanya sok asik.
"Max sama Lou," ( baca : Meks and Luu)
"Ooo.."
"Max and Lou, lucu juga ye namanya."
"Max Lou Max Lou Max Lou, tikus bule ni ya berarti."

28 Maret 2010

Lagak Sok Tahu (analog)

"hei Jon"


"sebiru-biru cahayamu, tak sebiru hatiku" ..hahay



"bukan gang dolly"

27 Maret 2010

Drive-in

Ramai percakapan manusia bagaikan ketel rusak yang kita ketuk tanpa irama mengiringi beruang berdansa.
Sementara kita membuat musik yang bisa melumerkan bintang-bintang di atas sana.

L
uar angkasa yang gelap dan dingin diisi oleh sejuta objek raksasa yang tersusun secara aneh. Abstrak, namun berpola. Seperti kita melihat lukisan ekspresionis Affandi, dari jarak yang sempit akan terlihat seperti goresan tak teratur yang tak bertutur. Tapi akan berbeda apabila kita melihatnya dengan jarak yang luas, goresan tersebut ternyata membentuk wujud sempurna diatas kanvas. Begitulah angkasa, sebuah ekpresionisme agung dari Tuhan. Secara sempit akan terlihat seperti hamparan acak tak berpola. Kita harus melihat nya secara luas, barulah akan mengerti mengapa Tuhan menciptakannya. Tuhan menciptakan Bumi untuk dihuni manusia, dan Tuhan menciptakan langit penuh bintang untuk mengajarkan ilmu dan seni pada mereka. Berbagai macam rasi dan galaksi. Beribu bintang nan terang. Komet yang meluncur lintas planet. Seperti keluarga besar yang tak terjangkau. Bahkan pelukis sekaliber Van Gogh saja berkata kalau bintik-bintik cahaya di langit itu berada di luar jangkauannya. Berbeda dengan bintik cahaya di sudut-sudut kota Paris. Kanvas manusia tidak bisa menampung semua yang anggun. Makhluk bumi hanya bisa tertegun. Tuhan menang banyak kali ini wahai manusia. Tatasurya adalah masterpiece-Nya. Tataplah diam ke atas sana. Tunggu sampai disapa.

.....

Si pria duduk di kursi kemudi. Merebahkan tubuh sambil menatap langit malam dari kaca mobilnya. Ia seperti menyaksikan sandiwara televisi. Matanya melempar tatap kosong, kadang bibir nya ikut tersenyum, kadang sedikit bergetar, dan kadang matanya berbinar. Ia kembali ke masa lalu nya. Dulu ia pernah dijanjikan mendapat uang apabila berhasil menghitung bintang di langit ibu kota. Sebuah tantangan retorika jaman dulu. Tapi sekarang hal itu bukanlah retorika. Mudah sekali menghitung bintang di langit Ibu kota. Paling banyak hanya dua-puluh bintang. Ia bisa menjadi kaya raya apabila ada tantangan sejenis pada masa sekarang ini, begitu pikirnya. Maka dari itu ia senang ke tempat ini. Tempat rahasianya, jauh dari Ibu kota. Tanah lapang di bawah kubah dunia.

25 Maret 2010

Kutukan "Lantai 13"

Beberpa malam yang lalu, secara tidak sengaja, dan benar-benar tidak sengaja, saya menyaksikan sebuah film horror Indonesia yang dimainkan oleh salah satu anggota penyanyi Ab Three. Ketika itu saya sedang pulang dari berkegiatan, lelah sekali rasanya sehingga saya langsung merebahkan tubuh diatas kasur. Tidak lama kemudian muncul seorang sepupu berumur 8 tahun masuk ke kamar saya. Membuka pintu dengan tergesa. Terlihat dari mukanya ia sedang bersemangat sekali. Sudah tau benar, biasanya dengan ekspresi seperti ini ia hendak memamerkan properti terbarunya. Dan benar saja, tepat di samping kepala saya yang sedang terkapar di bantal, ia menunjukan sebuah DVD horror Indonesia dengan gambar Widi Ab Three di cover nya

“Nih mas, dari Bunda, nonton yuk”, ajaknya dengan bersemangat.
“Hmm.. mas cape nih de”
“Ini bagus lho mas kata Bunda”, jawabnya dengan muka gembira.

Bagi saya adalah suatu dosa besar untuk meruntuhkan mimpi anak-anak kecil. Maka dari itu, suatu dosa besar pula melawan orang tua, karena terkadang mereka suka bermimpi layaknya anak kecil. Apalagi di samping saya ini ada sebuah wajah lucu sedang tersenyum dengan sangat gembira. Saya berpikir, itu adalah senyuman penuh kebanggan. Sebuah kebanggan apabila nanti saya ternyata sangat antusias dengan film yang di bawakannya.

Saya mulai menerawang dan berpikir. Apabila saya setuju untuk menonton film ini, berpura-pura menikmatinya, pastilah nanti ia akan bangga, keluar kamar dengan wajah gembira, lalu melihat dunia dengan megahnya, menjadi pribadi yang optimis dan berhasil sukses di masa depannya.

Malaikat Reporter

Tuhan ada dimana manusia ada...

Aku adalah malaikat utusan Tuhan yang berdinas di Bumi, dan bertugas untuk melaporkan apa yang sedang menjadi trend di Bumi
.

Ya, menjadi semacam reporter untuk Tuhan adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan. Terlebih aku di tugaskan di Bumi, tempat manusia berada. Manusia sangat menyenangkan. Bukan untuk di jadikan teman, tetapi menyenangkan untuk diamati. Aku tidak pernah kehabisan tulisan untuk laporan ke Tuhan. Kadang aku berpikir, kasihan sekali malaikat yang di tugaskan di Luar angkasa. Sepi, tak ada berita, pasti ia sering dibentak oleh pim-red karena tidak menghasilkan tulisan apa-apa.

Ah, tetapi itu juga masih tidak terlalu parah. Coba bayangkan nasib malaikat yang di tugaskan meniup trompet ketika kiamat datang. Bah, lama sekali kiamat tidak datang-datang. Tak terbayangkan bagaimana ia jenuh berjuta-juta tahun menununggu keputusan Tuhan tentang kapan berlangsungnya hari kiamat.

Aku pernah mencuri dengar dari malaikat lain kalau ia kadang hanya duduk dengan tatapan kosong di samping trompet nya selama bertahun-tahun. Tetapi ada juga yang pernah melihat ia sedang bermain catur dengan si Isa. Si malaikat menang. Ah, pasti si Isa hanya pura-pura kalah untuk membuat malaikat itu senang. Yah, begitulah, Isa memang baik, dan kabarnya dia itu memang pengalah.

Bagaimanapun aku lah yang paling beruntung. Ditugaskan di Bumi dan membuat laporan. Tetapi sekarang aku mengalami sebuah dilema. Aku membuat laporan tentang perkembangan kepercayaan manusia kepada Tuhan. Hasilnya mengecewakan untuk Tuhan. Sedangkan ini harus aku laporkan kepada-Nya secepat mungkin. Aku takutnya Tuhan marah, dan hendak meng-kiamatkan dunia. Pasti si peniup trompet sangat senang karena pekerjaannya selesai. Tetapi, aku masih sangat menyukai Bumi. Paradox pikiran manusia adalah tontonan yang lebih menarik dari pada hidup didunia baka yang membosankan.