31 Maret 2010

Hamster Punya Cerita

Buat sebagian laki-laki, mengakui binatang-binatang menggelikan seperti hamster dan kecoa terbang itu lucu adalah hal yang sangat maskulin. Ini dia kawan saya yang baik. Namanya Ronal, badannya tinggi tegap, kulitnya coklat menuju hitam dan punya obsesi yang tidak main-main dengan dunia hewan. Prestasinya antara lain menarik-narik sirip hiu seaworld, menangkap cicak dan reptil-reptil berbahaya, memiliki pengetahuan soal hiu, binatang buas lainnya dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Tapi jangan khawatir, tampangnya lumayan lah.

Nah, memang sudah biasanya tiap malam saya dan si Boimin datang ke rumah Ronal buat diskusi. Biasanya kita membahas soal politik Turki Selatan setelah perang salib atau uji coba rumus logaritma nan efisien untuk pembangunan teknologi nuklir Korea Utara, gitu deh. Namun hari itu di kamar Ronal ada sedikit pemandangan yang baru tapi tidak mengejutkan buat saya. Apakah itu? Betul sekali tebakan anda. Ronal punya peliharaan baru. Namanya si Max dan Lou. Bukan, mereka bukan macan India. Mereka adalah hamster, sepasang hamster. Saat ditemui di kandangnya, Max sedang lari-lari di atas mainan treadmil-nya dan Lou sedang tidur.

"Namanya siapa nih, Nal?" bertanya sok asik.
"Max sama Lou," ( baca : Meks and Luu)
"Ooo.."
"Max and Lou, lucu juga ye namanya."
"Max Lou Max Lou Max Lou, tikus bule ni ya berarti."

Sekedar catatan, hamster itu bentuknya mirip tikus. Masalah lucu atau tidak lucu, itu sangatlah subjektif.

Tiba-tiba saja sekonyong-konyong Ronal mengeluarkan si Max dari kandangnya dan dia lempar si Max ke depan muka saya. Weiiiits, jumpalit, jumpalit, sesaat. Tidak menyia-nyiakan latihannya di kandang, si Max lari terbirit-birit masuk ke dalam kolong lemari. Dan gak mau keluar lagi.

"Yah, Wong, ribet dah," kata Ronal sambil nungging-nungging ngintip kolong lemari.

Kalo hidup adalah soal pilihan, untuk se-ekor tikus pilihan hidup Max itu sebenarnya cukup sulit. Kalau saja dia tidak balik lagi ke kandang, dia bakal dimakan sama Choco (baca:Coko). Choco itu anjingnya si Ronal yang suka makan karpet. Kalau dia memutuskan buat muncul dan menyerahkan diri, berati dia memutuskan balik lagi ke kandang dan menghabiskan waktu seumur hidup bersama Lou yang ternyata juga jantan. Ah, kasihan si Max. Straight Max.

"Panggil aja Nal, siapa tau keluar," sedikit saran.
"Meekkk..meeekkk," panggil Ronal.
"Meeekk.. Lou udah kangen nih, keluar dong mek," ikutan nyari, sok baik.

Tapi, kayanya ada yang aneh nih, tapi apa ya. Sepertinya barusan seperti ada yang mengusik ketenangan batin ini.

"Meekkk!! Woiiii keluar lo!!" mulai emosi.

Mendengar nama barusan, saya tersadar dari lamunan. Mek? Kenapa Mek? Namanya kan Max, pakai "x" bukan "k". Ada apa ini, saya pun langsung mengambil sebatang rokok dan duduk diatas kasur. Sementara Ronal masih nungging di lantai.

"Meeekk..meekkk..."

Aduuh, bener-bener ganggu banget dengernya. Setiap kali saya dengar nama Max dengan gaya ucapan begitu, pasti analogi saya secara visual langsung terbang ke sejenis alat kelamin yang melingkar. Kalau kita analisa lebih dalam dan lebih dalam lagi, banyak banget kata-kata dalam Bahasa indonesia yang berubah pengucapannya. Apa ada yang salah ya sama mulut orang Indonesia? Saya ada beberapa contoh kongkrit. Ricky Alex contohnya, sebuah nama, dia itu senior saya di kampus. Tapi orang-orang biasa manggil dia Riki Alek. Malahan ada juga yang dengan brilian memanggil dia Rilek alias Riki Alek.

Yang lebih parah lagi ini, Risa Susmeks (dibaca: susmek). Heboh namanya, saya kira dia tuh artis nakal alias bom sek. Ternyata bukan. Maap ya sebelumnya mba Risa susmek.

"Meeekk..meekk.."

Nah, ini yang akhirnya yang menjadi pertanyaan di benak saya. Apakah jangan-jangan. Jangan-jangan. Seharusnya pengucapannya yang benar itu adalah m*m*x? Namun ketika kata tersebut dibawa oleh kompeni alias VOC dari Belanda masuk ke daerah Batavia, oleh masyarakat setempat terjadi proses kompromi bahasa. Akhirnya sampailah pada saat sekarang ini, yang biasa kita sebut dengan m*m*k. Persis seperti kasusnya si Max. Wow, bisa jadi kan? sepertinya butuh konsultasi dengan pakar sejarah atau mungkin dibahas di sebuah forum sastra di IKJ untuk membuktikan teori ini. hehehe.. Paragraf gak penting.

Bahasa adalah representasi budaya bangsa. Saya ingat Slamet Raharjdo dalam acara tv-nya "Minggu Malam Bersama Slamet Rahardjo" di TVRI (masih ada gak ya?). Dia bilang begini, seingat saya, "salah satu tujuan dari film Perancis adalah untuk melindungi bahasa Perancis". Betapa berharganya dan bermaknanya bahasa ibu untuk mereka. Budaya mereka.

Sedangkan kita di sini senang dibuai dengan istilah yang namanya globalisasi, entah perjanjian macam apa globalisasi itu. Globalisasi menuntut kita untuk bisa berbahasa Inggris, dan bisa lebih banyak bahasa asing lebih baik lagi. Itu hal yang positif memang. Saya setuju dengan itu.

Bahkan sejak masih di TK, bocah zaman sekarang sudah mulai di cekoki dengan banana, avocado dan sebagainya. "Buah-buahan" yang baru saya dapat saat duduk di bangku SD. Tapi poin-nya bukan disitu, yang membingungkan saya adalah bagaimana mungkin saya (atau kita?) bisa begitu fasehnya berbahasa lain dengan kaidah-kaidah yang baik, tapi begitu serampangannya ketika menggunakan bahasa sendiri.

Masih juga sambil merokok di atas kasur Ronal.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri. Coba sebutkan tiga saja sastrawan atau sastrawati Indonesia, selain Chairil Anwar dan Pram? adakah penulis-penulis Indonesia saat ini yang saya tahu? Seberapa banyak sih karya sastra Indonesia yang sudah saya baca? Seberapa banyak sih waktu yang saya gunakan untuk sekedar menulis? Seperti apa sih seharusnya "menjadi Indonesia" itu? Pentingkah itu semua kawan? Atau mungkin memang pemerintah sekarang lebih suka lihat anak-anaknya jadi "lebih putih dan pirang"? (loh, kok jadi menyalahkan pemerintah?)

Ya, pemahaman kita soal Indonesia memang perlu direnungkan ulang.

"Meekk..meekk. Kalo lo gak keluar juga, kandangnya gua bakar yaa.." Ronal masih nungging dan sudah mulai terbiasa sekarang mendengarnya.

"Woii.. ngerokok aja lo!!"
"Iya dah Nal, Maaaxx.. sini Max..heheheeh."


*Terima kasih untuk Max. Seorang hamster yang menyadarkan seekor manusia.



.....

Oleh : Wong (BimaNP)

8 komentar:

Boim mengatakan...

Ada wanita yang diperkosa oleh pria bernama Saripan Sentosa dengan panggilan sehari-hari "Rip.."
Lalu wanita itu hamil, dan melahirkan anak laki-laki.
.
.
.
Tujuh tahun kemudian,
Sang wanita diambang pilihan untuk bunuh diri. Pistol sudah tertodong di kepalanya. Telunjuknya siap menekan pelatuk.
.
.
.
Usut punya usut,
Si wanita memberi nama anaknya Arief Prasetya. Orang-orang memanggilnya "Arip..rip".
"Rip, maen bola yuk"
"Rip, manjat pohon yuk"
"Rip, pergi lu.."
"Rip.."
"Rip.."
"Rip..rip..rip.."

Tujuh tahun si wanita selalu diingatkan nama pria yang memperkosanya oleh lingkungan.

Tujuh tahun si wanita diperkosa batinnya oleh anaknya sendiri.

"Rip.."
"Rip.."
"Ripp.."

"DOORR..!!"
Pelatuk ditekan. Isi kepala berhamburan. Wanita telah dibunuh bahasa.

(haha.. setuju dah. Mang "Menjadi Indonesia" itu harusnya lebih dikampanye-kan lagi. Biar bisa punya jati diri aja gitu..

BTW: kok 'Boimin' di cerita lu ilang sih.. haha)

pemuda pentantang pelenteng mengatakan...

cerita mengenai si mex mex cukup mengelitik, lanjut gan :beer: :anggurmerahmahal:

Wong mengatakan...

@boim : boiminnya coli, gak enak lah kalo gua
tulis di cerita.

@pemuda pentantang pelenteng :
sabar mas, sebenernya anggurnya sih gak mahal. kita nya aje yang susah. hahahaah

Panah Hujan, inc. mengatakan...

Ini blognya Arya Bima, kan? Kok isinya bisa tingkat tinggi begini, ya. lol.

Emh. Bisa juga ya ternyata. Tulisan serius dicampur bagian-bagian 'bercanda' dan santai.~

Mau komentar apa, ya? Uh, OOT dikit. Itu kenapa semua labelnya: Pry...? :D

Boim mengatakan...

Halo, mi..

Ni blog jadinya di isi oleh beberapa tulisan temen2 dekat. Gak ada topik dan gaya tulisan khusus di dlm sini. Jadi bebas nulis apa aja. haha.. gak penting bgt. ya maksud nya sih biar beragam aja, kaya majalah. *Bukan FHM, Popular dsb

jadi nanti pembaca seperti membeli kucing dalam karung,mi..

Paham ndak?.. saya pun tidak.

yahh, jadi tagline yang pas buat blog ini adalah: "buka dan rasakan kejutannya".. haha

Arya bima yang adalah saya sendiri, diblog ini berperan sebagai "Boimin". tulisan "Hamster Punya Cerita" di produksi oleh teman saya Bima Nirmala sebagai "wong". (sama-sama "bima" nama aslinya, tapi gantengan dia, ironis).

Kenapa labelnya: Pry..
Karena 'proyeksi'.. kenyataan, mi..
Itu alesan doang sih, sebenarnya karena belum banyak postingan, jadi kesulitan menentukan label.. haha.

Makasih sudah mampir, jangan lupa mampir lagi. Sudi mampir.

NB: Mungkin saudara wong mau menambahkan penjelasan lagi.. Silahkan wong..

Wong mengatakan...

Hai,panah hujan.

Sebenernya ruangan ini adalah blognya Arya Bima tapi dia minta tmn2nya untuk ikutan nulis jg disini. Supaya tulisan dia keliatan bagus, kita2 ini disuruh bikin tulisan yang kasar dan belepotan. Yah mau gimana lagi, kita sih terima-terima aja, wong dibayar. Gtu lho.

Kita doakan saja, semoga dari blog ini Arya Bima bisa mendapatkan penghargaan di ajang Panasonic Gobel Award. AMIN

Boim mengatakan...

AMINNNN.... Hidup Panasonic !!

hahaha...

Saya luruskan.. ini blog bersama. Smoga kita bersama bisa mendapatkan panasoic gobel.. amin

Anonim mengatakan...

http://www.lamega.com.co/comment/reply/105361

Posting Komentar