26 Juni 2010

Bebas

Di sore hari yang sedikit suram karena hujan, saya duduk di teras depan sebuah kantor kecil. Ditemani secangkir kopi yang tak lagi panas, sebatang rokok terakhir dan seorang teman yang baru saya kenal bernama Dion. Sebut saja dia Mas Dion.

Ajaib sekali teman yang baru saya kenal ini. Hanya dalam 5 menit, saya sudah terpukau karena gaya bicaranya yang cerdas dan lantang. Dalam 20 menit, saya luluh akan keluasan wawasannya yang tak terbatas. Dalam 45 menit, saya pun mulai keringat dingin dan sedikit mual. Dalam 2 jam, saya pun akhirnya benar-benar merasa menjadi manusia tanpa kredibilitas apapun. Luluh lantah. Ya, Mas Dion telah memperkosa saya (bukan dalam artian sebenarnya).

Mas Dion, benar-benar manusia dengan banyak ilmu, dari yang ilmu pasti, ilmu tidak pasti, sampai ilmu yang dipasti-pastikan. Saya berani bertaruh, bahwa orang seperti dia pasti bisa menebak dari jarak 2 meter, apakah itu semut jantan atau betina. Namun berbeda dengan Alm. Bapak Tino Sidin yang suka meng-"like this"-kan karya ataupun pemikiran murid-muridnya untuk mengobarkan semangat mereka. Sedangkan Mas Dion sebaliknya, ilmu-nya banyak namun membuat lawan bicaranya merasakan sensasi ketololan pribumi pada masa tanam paksa. Mas Dion seperti replika kolonialisme Belanda dalam satu tubuh manusia

Sudah hampir 2 jam di teras ini. Sekarang Mas Dion sedang menjelaskan sejarah makanan Gado-Gado.

"Gado-gado itu asalnya dari Portugal, man. Begini sejarahnya, ada orang portugal yang minta dibikinin salad ma orang pribumi. Tapi karena gak ada bumbu saladnya, dipakeinlah bumbu kacang terus di aduk-aduk. Ketika disajiin, orang Portugalnya bingung, trus ngomong gini. Wohhh Gado.. Yang artinya dalam bahasa Portugal Gado adalah makanan binatang. Tapi pas si orang Portugal-nya nyobain, eh dia bilang enak. jadilah Gado-Gado, man. Lo serius gak sih bikin program ini? lo tuh harusnya riset, riset dan riset. Gue aja punya tim riset 60 orang lho."

"Kalo sejarah karedok?"

"Hmmm.."

Pembicaraan Mas Dion pun berlanjut. Tidak ada celah untuk menyangkalnya. Menurut saya semua teori ia paparkan secara logis namun tidak ada bukti otentik. Saya pun semakin kecil hati dibuatnya. Pikiran saya yang letih saya biarkan melayang-layang, tiba-tiba saya ingat dengan sebuah teori dari seorang yang bernama Michel Foucault. Teori tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan.

Michel Foucault, adalah filsuf Prancis yang lahir pada 15-Oktober-1926 di Poitiers, Prancis. Wafat pada 25-Juni-1984 di Paris. Salah satu pemikirannya yang revolusioner adalah teori hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Menurutnya, untuk melakukan penindasan dibutuhkan pengetahuan demi menguasai yang tertindas. Tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan, dan tidak ada pengetahuan tanpa melahirkan kekuasaan.

Tertulis dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa kekuasaan tersebut adalah rezim yang dapat melakuakn kontrol dan menguasai pihak lain. Pengontrolan itu sampai pada wilayah yang paling sempit dan pribadi (intim), yaitu tubuh individu. Kekuasaan itu dapat membuat tubuh-tubuh tersebut menjadi tunduk.

Dalam hal inilah Mas Dion sudah membangun kekuasaan atas saya. Semua komentar saya dipangkas seketika, dan diberikan komentar baru oleh Mas Dion yang katanya "ini baru benar" karena katanya tertera didalam buku ilmiah. Ya, kekuasaan dan pengetahuan dijustifikasi melalu berbagai hal dan cara. Misalnya lembaga agama tentang fatwa haram-halal, lembaga negara tentang kriminal-non kriminal atau pornografi-bukan pornografi lembaga ilmu pengetahuan tentang ilmiah-tidak ilmiah. Dalam konteks ini ukuran kebaikan dibangun atas sebuah wacana (pengetahuan) yang akhirnya mengatur gerak gerik tubuh. Dan membuat masyarakat mengikuti aturan-aturan tersebut.

Saya pun berpikir, saya hanya mau berekspresi bebas, tapi kenapa banyak sekali manusia seperti Mas Dion ini. Saya pun menyimpulkan, pastilah Mas Dion ini adalah orang yang setia pada wacana bahwa hubungan seksual itu hanya diperuntukan untuk meneruskan keturunan saja, dalam bingkai perkawinan yang sah, antara laki dan perempuan (hetroseksual). Maka semua yang diluar itu dianggap layak dihujat, laknat, amoral dan kriminal. Yang termasuk layak dihujat, laknat, amoral dan kriminal adalah seperti kelompok homoseksual (gay-lesbi), biseksual, seks pra nikah bahkan sampai pelaku onani atau coli. Ah Tuhan, bahkan Mas Dion ini tak pernah coli. Kesimpulan yang luar biasa.

Sekarang lagi hangat-hangatnya Video porno mirip artis. Kasian si artis dihujat orang banyak. Mereka dianggap amoral sampai harus minta maaf kepada masyarakat. Namun penilaian itu adalah produk pengetahuan yang berasal dari lembaga kekuasaan yang ada di masyarakat. Lalu apakah media massa yang membantu penyebaran video itu lebih bermoral? Lalu bagaimana dengan program KB, apakah bio-politik modern yang membatasi jumlah kelahiran itu bermoral? Bagaimana dengan suami istri yang mempunyai anak lebih dari dua, sebuah perilaku amoral kah? Dan vasektomi pun menjadi bermoral? Semua yang bermoral dan amoral menjadi rancu. Saya pun marah dengan Ariel, tapi kemarahan saya lebih merajuk kepada rasa iri saya akan keberuntungannya dapat "melibas" beberapa wanita yang hanya bisa hadir dimimpi-mimpi saya.

Kaum homoseksual pun menjadi korban sebuah wacana. Pada sekitaran tahun 1975 para psikolog dan psikiater seluruh dunia sepakat mengeluarkan pernyataan bahwa homoseksual sebagai penyakit. Seks yang seharusnya bebas mengekspresikan kegilaan dan kebinalannya harus bersembunyi dalam selimut norma karena takut dengan seruan, "ini kelainan seksual, bung!", teriak dunia medis dan psikiatris.

Artinya dalam konteks ini, pengetahuan membangun wacana yang akhirnya punya kuasa untuk menentukan mana yang sakit dan mana yang tidak, mana yang menyimpang dan mana yang normal.

Ini yang dimaksud oleh Foucault sebagai pengetahuan yang membentuk kuasa atas tubuh. Saya pun secara tidak sadar menjadi wilayah kekuasaan wacana dari Foucault dan saya sangat sadar menjadi wilayah kekuasaan dari Mas Dion yang masih saja menceracau.

Lalu, mengapa kekuasaan itu bisa dibangun terus menerus dan keawetannya terjaga sekian lama?

Panopticon System, adalah pengawasan yang dilakukan dengan tidak terus menerus tetapi berdampak secara kontinyu. Beginilah keawetaan kekuasaan tersebut dijaga. Contoh sempurnanya adalah sebuah pernyataan berikut.

"Tuhan itu selalu melihat apa yang dilakukan umatnya."

Ini lah contoh Panopticon System yang dilakukan oleh agama. Sehingga dengan cara itu mengakibatkan umat harus berbuat sesuai dengan ketentuan Tuhan, karena Tuhan selalu mengawasi. Contoh lain dari sistem ini adalah sidak atau razia mendadak di sekolah atau di jalanan. Sehingga para masyarakat atau siswa merasa ter-"teror" dan melaksanakan wacana-wacana yang ada.

Lalu saya berpikir, bagaimana ya caranya si Mas Dion menjaga penguasaannya terhadap saya. Masa iya Mas Dion merazia saya punya tas atau dompet. Tidak masuk akal. Ah saya gembira, ia tidak bisa mempertahankan kekuasaannya.

PLAKKKK... Tiba-tiba tangannya memukul lengan saya, menyadarkan saya dari lamunan yang panjang.

"Hoi, bengong aje. Ampe dimana tadi omongan gue?", tanya Mas Dion.

"....."


Oleh : Boimin





9 komentar:

togeringo mengatakan...

gokil!!!!!!!
akhirnya ada tulisan baru!!!
gue blum baca sih tapi,hahaha...ntar ye gan...

boim mengatakan...

woi, biji.. baca dong. haha

charlesbronsondariselatanjakarTAMAsihorangkitajugakok :) mengatakan...

gawat lo im mangkin mangkin aje kayaknye.mantep!

satu hal setelah baca saya lihat kolom untuk berkomentar, yang memungkinkan saya berkomentar terhadap cerita penguasa seperti mas dion.

aduh mas dion ini, apa ya. gw tadi mau komentar tapi lupa sekejap, jadi nanti mungkin nyusul ya.

satu hal, kalo gedeg sama orang tipe mas dion memang agaknya cukup sulit untuk mengekspresikannya. pengen kita pukul, tapi mas dion mungkin akan bertindak selanjutnya, karena mas dion punya pengetahuan yang banyak tentang pasal - pasal hukum pidana. perhitungan yang sudah dihitung kalah inipun masih belum sempurna, karena kita belum memperhitungkan bilamana mas dion mempunyai ilmu bela diri.
ada satu cara lain, melenyapkan mas dion dari dunia ini yang berarti membunuhnya, tapi kita akan tetap kalah dihadapan tuhan dan dihadapan hukum negara. jadi mas dion sementara tetap menang selagi kita belum punya pengetahuan yang cukup untuk mengkouter pengetahuan mas dion. (jadi ngaco kemana mana dah) :P


ya satu hal yang saya ingat dari tulisan mas boim ini, mas dion berlagak seperti mempunyai pengetahuan tak terbatas yang tampaknya sangat logis tapi belum bisa disebut empiris, jadi saran saya sementara itu, kita kritisi dari mana "pemikiran logisnya" didapat, yang juga berarti permintaan bukti empiris atas segala sesuatu yang di lemparkan olehnya.

sementara gitu dulu ah.. jadi melenceng gini kemana2 gara2 lupa, yah tapi sah sah aja kali yak. namanye komentar.. hehee

tapi satu hal lagi yang pengen saya tau.
mas dion ngga ada main gila sama mbak ratna dari kan?
hahahah

Boim mengatakan...

wah bener tu, sebaiknya jgn dipukul mukanya. Kita cukup pukul aja hatinya. wakakakaka...

wah mbak ratna mah maen gila nya ma si sugeng, tam. dibongkar-bongkar gudangnya. hahahay.

thnx, bro.

sheilaisme mengatakan...

mantab Im!
lanjutkan!

Boim mengatakan...

wah.. "lanjutkan"..
saya bukan partai demokrat, sheil.. haha

mksh yoo..

wong mengatakan...

wah ketipu semua lo pada.. ini tuh yg nulis mas dion.. wakawakawaka

mas dion mengatakan...

hahahaa...
mereka semua tertipu, wong!
salam kenal, saya dion...
anggota baru di tepian kota...
binatang favorit saya jerapah..

boim mengatakan...

@wong : hahaha..sa aje.. bukannya saya pendiam ya jika sedang debat terbuka. haha

@mas dion : Halo, selamat bergabung mas. Binatang favorit saya tapir.

Posting Komentar