11 Februari 2011

Guru Ragu

Krrrrrrriiiiiiiingggggggg…. Krrrrrrriiiiiiiingggggggg…. Krrrrrrriiiiiiiingggggggg….

Terhentakku tersadar dari lamunan, aih mimpi buruk lagi! entah kapan igauan siang hari seperti ini berkesudahan, ketakutan yang hadir tiap ku membayangkan masa depan, dan aku tahu betul apa yang memicunya untuk selalu datang. Di depanku setidaknya 40 anak-anak berseragam putih merah tetap hening berjibaku dengan buku dan alat tulisnya.

“Ayo anak-anak kumpulkan latihannya, biar nanti Bapak periksa latihannya di rumah” ujarku.

“Yaaaaah, belum selesai Pak sebentar lagi ya?” ujar beberapa anak.

“Sudah sudah kumpulkan saja biar nanti Bapak periksa di rumah. Ayo Budi coba Bantu Bapak kumpulkan latihan teman-temanmu.” Tambahku.

Satu persatu anak anak pamit meninggalkan kelas untuk pulang kerumah tanpa ada yang melewatkan kesempatan untuk mendapatkan giliran mencium tanganku, pada saat saat seperti inilah aku tidak menyesali pilihan hidupku untuk mengabdi pada negara dengan menjadi seorang guru. Aku sering membayangkan, membandingkan saat saat seperti ini, tak ubahnya seperti rockstars yang melewati kerumunan fans fanatik dan dihadang oleh blitz kamera dan para kuli tinta. Setidaknya aku sadar betul siapa makhluk-makhluk ini, menurutku mereka jauh lebih baik dari fans berat ataupun para pencari berita yang menghadang selebritas, Mereka tonggak besar republik ini, para pemimpin besar nantinya, setidaknya dalam lingkup mereka masing-masing, atau kemungkinan lain lagi mereka akan menjadi pemimpin di keluarganya. Yah itupun tak kusebut kemungkinan besar, karena gejala – gejala yang timbul belakangan, abad baru, pemikiran dan ide-ide baru. Globalisasi, moderen katanya, semua serba barat.

Maka yang belakangan hanya mampu kusebut kemungkinan.

Lain dari itu, aku sendiripun tak terlalu yakin dengan ide dari pernikahan itu sendiri, melembagakan cinta, melegalkan nafsu, Tuntunan agama? Aih, apa pemikiranku kini juga sudah seragam dengan global barat? Bahkan kaum jahiliyah dan barbar saja sudah mengenal sistem kawin mengawini ini walaupun tentu bentuknya berbeda beda.

Otakku seketika kembali diserang, disusupi ide-ide modern, dibenakku kini terlintas sebuah pemikiran bahwa betapa beruntungnya orang-orang yang terlahir dengan kesadaran lahir dan batiniah dengan yakin, untuk tidak meyakini adanya hari kemudian dan lingkar lika liku agama. Bagimana denganku, orang yang berusaha menjalankan agama denga tafsiran konyolku sendiri? tetap keras kepala bertafsir tanpa ilmu, urusan ibadah manusia hanya dengan tuhan sanggahku. Tetapi benak yang datang barusan kembali ditentang ingatan lamaku tentang kesadaran. Dari yang pernah kubaca seorang pemikir barat Nietze, sang pembunuh tuhan itu pun berpendapat bahwa kesadaran yang salah tak ubahnya seperti semacam penyakit katanya. Cepat – cepat aku membuang jauh benak instan tadi. Aku lahir dikeluarga yang agamanya cukup baik. Anugrah atau petaka? Ah siapa peduli? setidaknya pekerjaanku sebagai seorang guru ini tidak mengharuskanku untuk mengajari dan menceramahi bocah-bocah itu dengan pelajaran agama, setahuku di sekolah dasar manapun pelajaran agama biasanya diajarkan oleh guru khusus agama saja. Sementara mari kita anggap begitu, hatiku yang lain kembali bertanya. ”betulkah begitu tidak penting si agama itu?”

”Husssahh, nanti lagi saja ya” usirku pada layangan pikiran membumbung.

Kuambil beberapa tumpukan buku itu dari meja, beberapa tumpukan buku ini menggunung ditanggan, yah beberapa tumpuk buku PR dan latihan yang harus selesai malam ini untuk dibagikan esok hari.

Tak kusadari masih ada dua anak di sekitarku, memperhatikan heran.

”Mau saya bantu bawakan Pak?” Budi menawarkan.

”iya Pak biar kami bantu, pasti berat sekali ya?” Sarah menambahkan.

”eh Budi dan Sarah kok belum pulang? Biar ini Bapak bawa sendiri, terimakasih ya..”
Beruntung aku selalu bawa tas besar untuk mengadapi hal-hal macam ini.

“ayo sudah anak-anak, mari pulang istirahat dan jangan lupa belajar untuk menghadapi pelajaran esok hari ya!”

Satu dari anak yang mengiringiku tiba-tiba menyela, memprotesku.

“iiiihh, Bapak lupa ya ini kan hari Sabtu? Sabtu dan Minggu sudah jadualnya refreshing Pak, Aku mau jalan-jalan dan main sama Papa Mama ke Mall, pasti seru deh!”

“Oh iya Bapak sampai lupa ini hari sabtu”

”eh Bapak kok bisa lupa, biasanya kan orang dewasa suka pergi berduaan,
pacaran kalau malam Minggu, ah Bapak payah..pasti Bapak ngga punya pacar ya?” Sarah kembali ceriwis.

”ah ngga juga, kalo malam Minggu begini bapak lebih suka baca buku dan istirahat di rumah saja, memangnya Sarah tau pacaran darimana?” selidikku.

”yah tau dong Pak aku kan sudah gede hehehe” seringainya lebar.

Sebentar kuperhatikan Budi sedaritadi diam saja tanpa ekspresi, tak tau apa yang dipikirkannya.

Kata-kata Sarah otomatis membangunkan sadar pribadi si guru bujang lapuk ini, apa rasanya keluar berkencan dengan seorang wanita, menjalin hubungan, berkomitmen, bertunangan, menikah, punya anak, menjadi tua, mati dan membusuk di kubur sana. Ah siapa peduli, ditemukan mati membusuk sendiri didepan tv dengan pose menggenggam botol bir sudah cukup keren buatku sampai saat ini. Toh tetangga tetap akan mennyolati dan menguburkanku, eh..iya pasti begitu kan? Tetanggapun akan punya sangkutan kalau saja tidak menguburkanku. Apa iya aku bisa menguburkan diriku sendiri? Apa iya benar urusanku hanya dengan tuhan, dan tidak ada masalah dengan membawa pelacur kerumah untuk disetubuhi berulangkali, sedangkan itu juga melibatkan tetangga-tetangga baik hatiku itu, yang juga akan terkena imbas dosa karena perbuatanku. Setidaknya itu yang kutahu diajarkan agama. Lalu bagaimana dengan pikiran-pikiran bahwa urusanku hanya dengan tuhan lurus langsung, Sambungan Langsung Jarak Jauh tanpa sama sekali mencampurkan ,mempengaruhi, melibatkan orang-orang lain disekitar akibat perbuatan kita sendiri? apa benar begitu? Ah lagi lagi teori tafsir sendiri urusan pribadi agama khusus dengan tuhan dikalahkan kontemplasi-kontemplasi ringan sekejap macam ini.

Aih manusia. Manusia berpolitik katanya, kubuktikan sendiri hal itu apapun bentuknya, termasuk juga diriku, layaknya para politisi dan penyelenggara negara yang dikritik oleh khalayak dan pandai menghindar mengelak laksana Bajay manufaktur India di jalanan ibukota. Segala dalih dan dalil dikeluarkan untuk ideal pribadi dan golongannya. Terpenjara nafsu dan ego pribadi, juga urusan perut-bawah perut. Buta tanda-tanda.

Aih manusia.



Oleh: tama




12 komentar:

sheilaisme mengatakan...

aih tama...
mengutip GM: "untuk berTuhan belum tentu harus beragama"
eh bener ga ya gue kupa kata-kata persisnya. :) ya begitulah intinya, teori tafsir dan bahan kontemplasi lainnya.
salam sejahtera!

tama mengatakan...

iya sel, semua hal serba belum tentu dan serba mungkin kalo "di-manusiakan"

gw juga ngga tau hal itu postive apa negative menurut konsep bertuhan itu sendiri.

terlepas dari masalah lo punya agama apa ngga dalam bertuhan, kan yang paling serem kalo tuhannya murka.
kalo pake bahasa kasar kita manusia mungkin gini bunyinya :

"seenak jidatnye nih bocah bertindak tanduk, gw kasih kesulitan juga luh!!"

bakal ribet urusan kalo sampe tuhan begitu sel,hahaha

sedang kalo bertuhan pake agama kan rulenya jelas begini begitunya udah diatur, jadi paling ngga kita tau apa harusnya yang kita lakukan menurut perintah tuhan dan ngga sampe keluar omongan kayak seenak jidat tadi haha!


tapi bebas sih semua berpendapat dan menentukan tindakannya, ini kan baru ceritanya si guru ragu aja, toh guru ragu juga belom pasti sikap akhirnya gimana..
diluar sana masih ada milyaran orang lainnya, belom lagi lo denger ceritannya si udin nganga..hahaha


salam tempel sel!

boimin mengatakan...

kenapa ga yakin ma ide pernikahan bor..

perkawinan menurut banyak orang investasi paling berharga man. lo ngasih makan bini, n nyekolahin anak lo mpe si anak jadi orang sukses. pada akhirnya si anak bakal menopang lo yang udah renta nantinya.

jgn teralu berat mikirin materi. lo kerja, terus pulang cuma bawa uang 20rb, dan istri membuka pintu rumah dengan senyumnya yang menawan. itu indah banget. nikmatin manis pait berbarengan.

tapi, ya... emang sih itu semua gak absolut..

kalo udah nyekolahin anak, terus anaknya cuma jadi perampok atau hansip. oke, hansip masih halal deh, tapi ini hansip yang cabulin bini orang. kecewa lah kita sebagai orangtua.

atau pulang kerumah bawa uang 20rb, buka kamar, eh ngeliat istri lagi 'maen' ma hansip. hansip RT sebelah pula. lebih kecewa lagi kita sebagai suami.

akhirnya, ya sedikit banyak gw ada rada ragu jg ma ide tersebut..

tama mengatakan...

kalo yang ragu sama ide perkawinan si guru ragu im, coba deh ditanya ke orangnya hehehe

kalo gue pribadi sih saat ini, sekarang, terhitung waktu bales komen lo ini ngga punya keraguan soal ide perkawinan..
cuma memang hambatan hambatan yang banyak menuju ke perkawinan itu - yang sebagian kecilnya lo paparkan diatas mungkin yang membuat gw ragu dan dibutakan dari rasa bisa dengan selamat sampai kesana.

ditambah, ketika lo udah kawin nikah kata orang hidup baru dimulai. jadi banyak lagi yang harus dihadapi.

lain halnya dengan masalah beranak pinak, bergenerasi, gw cukup yakin soal itu..
gw punya impian impian yang banyak ke anak gw nantinya, gw mau bikin anak gw tajem, jauh lebih tajem dari gue tentunya yang termasuk kaum bodoh dan papa ini hehe

contoh yang lo bilang kalo anak lo jadi perampok sama hansip masih terdengar sinetron banget buat gue, ambil contoh deket aje im. gue. gue diumur ini masih bergantung sama orang tua, masih tinggal dirumah, kuliah lagi masih dibayarin, dll.

soal investasi anak kurang menurut gw kurang tepat kali yak, kalo yang dimaksud investasi itu balas jasa anak.. yang gw tau dan gw rasa, orang tua itu tulus ikhlas buat gedein anaknya.. bangga sudah cukup ketika anaknya jadi orang berhasil, tanpa minta bergantung nantinya..
walaupun memang ada norma di agama dan masyarakat kuhsusnya di Indonesia yang bikin begitu.

ya lagi lagi gw harus bilang, soal perkawinan perkawinan ini hal yang masih sangat asing buat gue.. bercandaan gue kan lo tau selalu gitu, bahwa baru bakal kawin di umur 100 atau 200 tahun karena masih suka maen dan nongkrong sama lo dan temen temen lain hahaha


ya mungkin gue kali ya yang terlalu pengecut dengan ide sebesar ini :)

temen gw yang botak botak maupun yang jigrik (red: skinheads dan punks) yang umurnya jauh diatas gue. yang masa mudanya begajulan, beringas, horor banget deh pokoknya, ketika sudah berkeluarga sedikit banyak berubah.
tentunya memang harus begitu ya, berubah kearah lebih baik seiring tanggung jawab yang jauh lebih besar.

tapi ketika salah satu temen di kosan kemaren (yang notabene-nya seumuran) udah nyebut nyebut soal KPR dan kawin kawinan ini, gue jadi harus mikir panjang kayaknya..

ngga enak kan kalo nongkrong dan minum sendiri sementara yang lain dirumah sedang mesra-mesraan sama anak istri hahahaha

boimin mengatakan...

iya, intinya itu hanya pendapat gw yang "sedikit-banyak" ragu akan ide tersebut. benar atau salah..

apa yang gw tulis mang hiperbola. ga realis. benar-benar sinetron. sinetron stensilan bahkan. yang biasa ditayangkan tengah malam.

tapi, puji tuhan.. lo menunjukan kedewasaan yang matang di komen ini. salute. gw rasa lo udah siap ke jenjang pernikahan bor. hahahaha..

:beer:

tama mengatakan...

hahaha tokai lo im.

bener bener hiperbola lo dikomen ini, catat : dikomen ini.
tapi sayangnya saya termasuk fans cerita cerita mas di manusia tepian kota ini lho :)

eh iya gw bener bener belom siap, lo kalo mau duluan ya silahkan..secara umur lo kan lebih..hahaha

hiperbola lo dengan kedewasaan gw yang matang.
selain masih bermasalah dengan kedewasaan yang matang, gw masih latihan untuk berani berusaha dekat dengan perempuan, sampe tahap situ aja udah dan masih saja invalid.

berusaha bilang diri gue yang gimana gitu, secara jujur. cuma pengen bilang lo ngobrol bukan dengan orang yang "baik dan normal".
eh doi malah salah tangkep.. nasib-nasib hadeh

padahal menurut gue mengenal lawan bicara cukup penting im. itu aja. dan gw pengen dia tau lawan bicaranya.

yah kalo kata bor wong : " yang udah jadi bubur emang malesin" hahaha

by the way, itu komen apa ye yang lo hapus? ngga metal ah kayak anak2 tepian kota hehehe

:beer:

boimin mengatakan...

yee, serius itu gw.. anak udah berpikir kedepan, ampe ngmngn KPR sgala. gokil itu, walaupun 82% tiap obrolan macam gini di kendalikan alkohol..haha

doski salah tangkep, apa lo yang salah tangkep feedback nya nih.. jgn mpe rancu aj. hal ini pun tampaknya akan di bicarakan dikosan dengan segelas bir atau bergelas-gelas gaur. hahah.

itu dia, komen yang gw hapus tuh menunujukan labil nya gw tam, dan pastinya belum siap untuk menikah. hahaha.

:beer: :donut: :D

wong mengatakan...

Aih baru liat ada postingan baru dengan komentar yang begitu panjang bagaikan kemaluan ras tertentu yang tidak diperoleh ras tertentu. Saya jg mau komentar panjaaaang! :D Tapi jgn khawatir, size doesn't matter! Menurut boimin pd suatu hari di bilang, g-spot itu tidak jauh untuk digapai! Percaya pakar. Iya boimin. :D
Ini si guru ragu kompleks bet yak sepertinya.
huehehe.. Dari agama sampe nikah sampe ke politik. :D Penasaran pak guru sebenernya mau nanya jg soal Pemikiran global barat itu pegimane? Pak guru banyak membuat segregasi barat dan timur gtu ya. Soal butuh atau tidaknya agama sebenernya balik ke pribadi masing2 (ciah ilaaah wong macem artis ditanya soal dugem di inpotenmen)Sistem keluarga jg pengaruh pastinya, toh pak guru jg sudah bilang begitu. :D

Eh menurut gua nih loh ya, Si pak guru itu karena tidak bisa menjawab pertanyaan problem2 eksistensialnya lalu menciptakan imajinasi-imajinasi kompensasi untuk menyeimbangkan emosinya. (minjem isitilah org imajinasi kompensasi, biar komen gua kliatan oke coy)Seperti idenya tentang keren mati dengan botol bir dll. Soal pelacuran itu, gua setuju dengan pak guru soal tafsir konyol tanpa ilmu.

Btw, kpn lo pada kongkow sambil ngomngin kpr? freak.. hahahhaha..

:beer:

Wong (tekan) mengatakan...

Cinta boy jawabannya cintaaa...
hahahha..

tama mengatakan...

wong ini sebenernya si guru ragunya masih belom bisa jawab banyak hal tentang maslah masalahnya yang ada di hidupnya dia nih, makanya dia cerita banyak hal ke guah.
dan gw ceritain ulang disini, begitu sih intinya..

kalo gw liat sih yak, si guru ragu ini masalahnya di cerita ini lebih tentang keberadaan pribadi dengan kehidupan bertuhan/beragamanya dia sih.. kalo dibilang melebar ngga juga, mungkin intinya disitu ya bertuhan dan beragama mungkin ya tema besarnya.

kayak agama yang mengatur kawin kawinan, agama dijadiin sarana/alat politik, baik oleh individu besar maupun kecil.. yang gw maksut politik disini dari penetapan tujuan dan usaha usahanya dari level individu sampe yang berskala besar yang berhubungan dengan kebijakan dan kepentingan publik.. ya anda taulah ya (mode bu wawa. tante wawa hahaha) dinegara ini apa saja ada dan terjadi(sotoy lo taaaammmm!!)

gw ngga mau berusaha berbicara segregasi timur barat sih, tapi mungkin itu dilakukan guru ragu supaya lebih mudah kaih deskripsi. di contoh cerita ini yang "jadi korban segregasian" itu yang maslah kawin-kawinan wong. kalo soal kalimat berbunyi pemikiran global barat itu sih bahasa keci-nye si guru ragu aje. ya semacem, nilai nilai barat yang masive didapat dari produk produknya yang masuk kesini dan juga negara negara lain didunia macem lewat film, musik dan lain lain apalah. Mendunia! Lagi-lagi gw bilang seenggaknya barat-timur itu Cuma sebagai deskripsi yang lebih mudah di mata orang awam kayak gw aja wong :)

wah sangat amat mungkin sekali wong imajinasi-imajinasi kompensasi dilakukan pak guru.
(asik, komen gw jadi keren juga dong nih pake bahasa begini hehehe)

soalnya gw liat Pak Guru ini apa yah.. standarnya banyak sih, bukan standar ganda lagi coy, ini mah poly-many-double seeing multiple standart confusing.(bahasa inggrisnya tukul 4 mata yang njelimet hahaha)
ya gitu dia dapet banyak standar gitu dari hidup, walaupun standarnya ngga standar biasa biasa aja. Standarnya luar biasa, banyak dan bikin njelimet. Mungkin dia larinya jadi begitu, kalo nga kontemplasi, mikir mulu, atau pake imajinasi kompensasi tadi. Yang jatohnya mungkin emang jadi kompensasi doang, ngga jadi solusi kali yak? Hehehe.
Ribet nih jelasinnya ketika standar lo banyak, lo kalah dan ngga bisa ngikutin standar yang satu, lo berusaha melakukan pembenaran dengan standar yang laen yang menurut lo lebih enak dan mudah. Mungkin gitu ya. Ya gw ngga mau bilang itu bener apa salah atau baik buruk juga, sesuai masing masing individu aja..kayak bertuhan dan beragama tadi itu. eke setuju lho sama yey soal kebutuhan kebuthuan individu yang dimaksud enoh.
(buset udah ah panjang bener, lama lama gw pikir kita jangan bilang ini kolom komen deh, mendingan gw bilang ini kolom surat pembaca kali yeee hahaha)

Wah G-spot G-spotan gw kaga ngarti wong, suwer sumpah dah, lo Tanya boim aje dah ye, sebagai orang yang percaya itu ngga jauh buat digapai dan orang yang ngasih tau lo soal itu..
Kalo soal KPR KPRan itu sodara yang tinggi jangkung yang ngomong, bukan ngomongin, tapi emang dia doang yang ngomong soal itu. Gw Cuma dengerin hahaha. Gw bilangin doi lho kalo lo bilang freak! hahahaha
Eh apaan tuh cinta – cinta? udah gede lo sekarang pake maen cinta-cintaan segala?? Pantesan kemaren dokem ajee sambil baca novel picisan ye? cerita lah wong hahaha

boimin mengatakan...

Hmm..G-spot, sekitar 3-3,5 cm dari labia minora. *ngasal


bay the way, eike mau tanya

Wong says : "jangan kuatir, size dosen't matter!"

apakah itu sebuah bentuk jenis imajinasi-imajinasi kompensasi? :D

(mudah-mudahan komen gw juga keren make istilah beginian)..

wong mengatakan...

Bukan im, itu fakta.. Fakta mengejutkan.. :D

Posting Komentar